Bayar Lebih Mahal Akan Lebih Mudah Lulus Ujian Mandiri ?

2:49 PM
biaya kuliah di UM

Ikut ujian mandiri ? Sudah tahu berapa biaya kuliah mahasiswa yang masuk ujian mandiri ?

Semoga informasi ini bermanfaat ya

Sudah rahasia umum kalau biaya kuliah di jalur mandiri memang lebih mahal. Tidak hanya membayar uang kuliah semester (UKS), tetapi juga ada sumbangan yang dibayar sekali ketika masuk. Penyebutannya berbeda-beda. Di Unair disebut uang kuliah awal (UKA), sementara di ITS dinamai sumbangan pengembangan institusi (SPI). Besarannya juga beda.

Konon, ada pendapat yang bilang bahwa semakin besar uang sumbangan yang kita dapat berikan, akan makin besar kemungkinan kita diterima.

Benarkah begitu ?

Ketua Pusat Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) Universitas Airlangga, bapak Achmad Solihin mengatakan, mayoritas sasaran jalur mandiri adalah kalangan ekonomi menengah ke atas.UKS yang diberikan akan disesuaikan dengan kemampuan camaba.

Tahun ini ada lima golongan UKS. Paling murah golongan 1 Rp 500 ribu. Besaran di setiap prodi akan berbeda-beda. Begitu juga UKA.

Di Unair UKA minimal paling sedikit adalah Rp 15 juta untuk prodi ilmu sejarah dan fisika. Sementara jumlah minimal tertingginya ada di prodi kedokteran yakni Rp 70 juta. Tidak ada batas maksimal yang ditentukan.

"Namun kalau ada pemamaham semakin besar sumbangan, peluang lebih besar, itu salah. Tidak ada hubungannya antara besaran sumbangan dan peluang,"

Kenyataannya sih, jika sumbangan yang dibayar sangat besar, tetapi kemampuan atau nilai hasil seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) rendah, peserta tetap tidak diterima.
Pak Solihin menjelaskan lagi, Unair sudah menentukan UKA dan UKS minimal di setiap prodi.

Namun, saking tingginya antusiasme masyarakat untuk masuk Unair, banyak yang berlomba-lomba membayar UKA tinggi tanpa melihat kemampuan sang anak.

"Paling besar UKS golongan 5 sekitar Rp 21,5 juta per semester untuk prodi kedokteran," 



Mahal tapi banyak peminat

Meski harus membayar mahal, pendaftar tetap menggandrungi jalur mandiri. Hingga kemarin, total pendaftar jalur mandiri mencapai 15.137 orang.

Menakjubkan. Pendaftar paling banyak justru di prodi dengan biaya UKS dan UKA paling tinggi. Misalnya,

  • prodi kedokteran 3.438 orang,
  • kedokteran gigi 2.173 orang, dan
  • farmasi 1.599 orang.

Bagaimana dengan kampus lainnya ?

 Ramdan Hidayat, wakil rektor (Warek) I UPN Veteran Jatim, menuturkan, jalur mandiri UPN Jawa Timur ( Surabaya ) menggunakan uang kuliah tunggal (UKT) golongan 3 hingga 7.

Sementara itu, UKT golongan 1, 2, dan bidikmisi sudah dipenuhi di jalur SNMPTN dan SBMPTN minimal 25 persen dari total kuota tahun ini.

Tahun ini UPN menerima 3.000 orang mahasisawa baru. Kuota jalur mandiri maksimal 30 persen dari total daya tampung yang dibuka, yakni sekitar 972 orang. Namun, kabar baiknya angka tersebut masih bisa bertambah jika ada camaba dari jalur SBMPTN yang tidak mendaftar ulang.

"Kalau ada kursi yang belum diisi, dimasukkan secara otomatis lewat jalur mandiri,"

Ramdan mengatakan, jalur mandiri memang digunakan untuk memenuhi penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Setiap PTN memanfaatkan sumbangan pengembangan instansi tersebut.

UKT akan ditentukan sesuai dengan sejumlah kriteria. Di antaranya, gaji orang tua, listrik, rumah, hingga kendaraan.

Klik gambar


Untuk SPI, UPN menentukan batas minimal Rp 0 dan tertinggi tak terbatas. Camaba yang mendaftar jalur mandiri bisa langsung mengisi SPI sesuai kemampuan. Mulai Rp 0, Rp 15 juta, Rp 30 juta, hingga seterusnya, tak ada batasan maksimal.

Menurut pak Ramdan, besaran UKT dan SPI setiap PTN memang berbeda-beda. Hal itu disesuaikan dengan grade kampus. Untuk kampus yang masuk 500 besar world class university, tentu saja biayanya mahal.

Sementara itu, Rektor ITS Prof Joni Hermana mengatakan, peminat jalur mandiri ITS meningkat jika dibandingkan dengan tahun lalu. Kemarin total lebih dari 8.000 pendaftar jalur mandiri.

Bapak Joni menyebutkan, biaya UKT sama dengan tahun lalu. Untuk SPI minimal, terendah Rp 20 juta dan tertinggi Rp 75 juta.

"Kalau mau menyumbang lebih banyak, juga tidak apa-apa. Namanya juga sumbangan. Tetapi, kami tetap memprioritaskan nilai SBMPTN, bukan besar sumbangannya,"

Disadur dari Jawa Pos 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »