Perjuangan Habiatul Bersekolah Sambil Mencuci Bis Di Terminal

9:32 AM
Ujian nasional Habiatul
Habiatul


Memang kita tidak boleh menyerah pada keadaan. Jika ada keinginan pasti ada jalan.

Dari jutaan siswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP), tersimpan jutaan kisah yang dapat menjadi pelajaran berharga untuk kita.

Salah satunya adalah kisah Habiatul Hidayatullah, penerima KIP dari Kota Cilegon, Banten, yang selain menuntut ilmu, juga harus mencari nafkah dengan mencuci bus di terminal dan menjadi juru parkir.


Setelah tamat dari SMP, Habiatul memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya ke pendidikan kesetaraan. Dia mengambil Paket C di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Melati Cibeber, Cilegon.

“Karena ekonomi keluarga saya tidak memadai untuk masuk ke SMA,” 

Habiatul lulus dari SMP Al-Ishlah Cilegon pada tahun 2015. Saat itu ia memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah karena sadar akan keterbatasan ekonomi keluarganya.

Ayah Habiatul seorang buruh pabrik yang penghasilannya tidak seberapa, sedangkan ibunya bekerja sebagai buruh sawah.


Jangan Menyerah Habiatul !



Mengetahui niat Habiatul itu, sang kakak yang seorang pengajar di PKBM, menganjurkannya untuk tetap melanjutkan pendidikan dengan mengambil Paket C di PKBM tempatnya mengajar.

“Jadi kakak saya yang ngurusin semuanya. Saya tinggal masuk aja,” ujar Habiatul.

Tahun depan ia  akan menghadapi Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) itu.

Belajar di PKBM memang berbeda dengan sistem belajar mengajar di sekolah reguler. Habiatul menjelaskan, teman-temannya di PKBM sebagian besar memang sudah bekerja, sehingga mereka hanya belajar di PKBM seminggu sekali, yakni pada hari Sabtu atau Minggu.

 Klik disini


Sedangkan pada hari Senin hingga Jumat dia mencuci bis di terminal atau menjadi juru parkir. Apapun dia lakukan.

Tanpa menyebutkan berapa penghasilannya, ia mengaku uang yang diterimanya cukup untuk jajan dan membantu kedua orang tuanya.

Alhamdulillah Ada KIP


Habiatul yang baru tahun ini terdaftar sebagai penerima KIP, berniat memberikan dana KIP yang diterimanya kepada orang tua.

Sebagai penerima KIP dari jenjang pendidikan setara SMA/SMK, Habiatul berhak atas bantuan pendidikan sebesar Rp1 juta/tahun dari pemerintah Indonesia.

Ditanya mengenai cita-citanya, dia hanya menjawab...

“Yang jelas saya ingin jadi orang sukses,” 

Lalu apakah kamu yang membaca ini masih akan bermalas - malasan ?

Sumber : Jabar News

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »