Terimakasih Universitas Brawijaya. 40 Penyandang Disabilitas Telah Diterima Menjadi Mahasiswa

5:04 PM
masa orientasi di Universitas Brawijaya
Masa Orientasi Di Universitas Brawijaya

Menempuh pendidikan tinggi adalah hak semua orang. Tak terkecuali penyandang disabilitas. Mereka pun berhak mendapatkan akses pendididikan setinggi mungkin sama seperti orang kebanyakan.

Prihatin ketika kita mengetahui bahwa di salah satu perguruan tinggi swasta di kota Depok, terjadi permasalahan Bully pada salah satu mahasiswa disabilitasnya.

Alhamdulillah. Indonesia sudah mengatur hak tentang penyandang disabilitas untuk menempuh pendidikan antara lain pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Semakin banyak perguruan tinggi (negeri) yang telah membuka kesempatan yang sama untuk penyandang disabilitas. Dan pada artikel ini, kita patut berterimakasih antara lain kepada Universitas Brawijaya.

Tahun ajaran baru 2017/2018 kali ini, sebanyak 40 mahasiswa disabilitas diterima di Universitas Brawijaya (UB).

Kondisi Mahasiswa Disabilitas Di Universitas Brawijaya


Sebanyak 30 di antaranya lolos masuk melalui jalur Seleksi Program Khusus Penyandang Disabilitas (SKPD).

Kemudian, dua mahasiswa melalui ujian jalur mandiri. Sedangkan ada delapan yang lolos masuk perguruan tinggi negeri di Malang tersebut melalui Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

 Klik untuk mendownload soal
Klik untuk mendownload


Dari sebanyak 40 mahasiswa disabilitas yang diterima, di antaranya

  • satu mahasiswa kelainan di bibir,
  • 15 mahasiswa tunarungu
  • dua mahasiswa penderita autis ringan
  • empat mahasiswa tunanetra
  • tiga mahasiswa cerebal palsy
  • 10 mahasiswa tunadaksa
  • satu mahasiswa IQ Borderline
  • satu mahasiswa down syndrome
  • satu mahasiswa autisme, dan
  • satu mahasiswa slow learner.


Sekretaris Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) UB, bapak Slamet Thohari mengatakan, semua mahasiswa disabilitas tersebut telah mengikuti rangkaian pengenalan kehidupan kampus mahasiswa baru (PK2MABA) dan melalui perkuliahan yang sama dengan mahasiswa lainnya.

"Diberikan fasilitas, tetapi bukan bertujuan untuk memudahkan, melainkan dengan tujuan tidak terluka," tuturnya.

Salah satu fasilitas tersebut, jelas Slamet, yakni adanya pendampingan relawan selama PK2MABA berlangsung.

"Bila ada kegiatan yang tak bisa dilakukan seperti lari, maka tidak dilakukan. Panitia mahasiswa juga diberi pembekalan terkait pendampingan mahasiswa disabilitas," terangnya.

Ia menjelaskan, setiap mahasiswa tersebut masing-masing didampingi oleh satu relawan. Hal tersebut tak hanya diterapkan saat proses masa pengenalan kampus saja, tetapi berlanjut hingga masa perkuliahan. Namun, untuk tahun-tahun berikutnya, mahasiswa diharapkan bisa beraktivitas mandiri jika sudah terbiasa.

Selain pendampingan tersebut, mahasiswanya di Fakultas Teknik juga sedang menggarap mobil ramah penyandang disabilitas untuk digunakan para mahasiswa beraktivitas selama kuliah.

"Mobil ini nantinya digunakan untuk antar jemput mahasiswa disabilitas setiap hari selama kuliah," lanjutnya.


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »