Belajar Kegigihan Dari Mahasiswa IPB

1:09 AM


Jaket Almamater IPB

Institut Pertanian Bogor (IPB) telah dikenal sejak lama sebagai kampus rakyat. Informasi umum yang diketahui adalah kebanyakan mahasiswa disana, apalagi yang melalui jalur undangan (kini disebut Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) umumnya berasal dari keluarga miskin.

Mereka  berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Jadi tidaklah aneh jika di suatu kecamatan/desa hanya ada satu pemuda yang kuliah, dan dia itu adalah mahasiswa IPB.

Sangat menginspirasi bukan ?

Kisah tentang mahasiswa IPB yang seperti itu pun terjadi pada tahun 2016 ini, pada angkatan ke 53.

Para Calon Mahasiswa Baru Yang Terancam Gugur


Sebanyak 430  calon mahasiswa baru (camaba) IPB Angkatan 53 terancam gugur akibat terkendala biaya. Mereka belum membayar biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT). Padahal Pihak IPB telah memperpanjang batas akhir pembayaran UKT tersebut dari tanggal  2 Juni 2016 menjadi Rabu, 8 Juni 2016.

Bidikmisi adalah bantuan biaya pendidikan yang diberikan oleh pemerintah kepada mahasiswa yang kurang beruntung dari sisi ekonomi, tetapi memiliki potensi. Umumnya penerima Bidikmisi adalah mereka yang pada waktu SMTA-nya merupakan siswa yang pintar dan berprestasi.

Menurut Kepala Biro Hukum, Promosi dan Humas IPB  Ibu Yatri Indah Kusumastuti, para pelamar Bidikmisi itu  umumnya anak-anak yang sangat pintar, banyak di antaranya yang juara umum. 

Namun umumnya mereka secara ekonomi sangat lemah,
kata bu Yatri.

Bu Yatri menambahkan, banyak di antara mereka yang merupakan anak yatim piatu. Banyak  pula yang selama bersekolah di SMA tinggal di rumah gurunya, karena orang tua mereka tidak mampu. Mereka berangkat ke Bogor pun atas biaya dari guru-gurunya. Di Bogor, mereka ditampung oleh kakak-kakak kelasnya di organisasi mahasiswa daerah (OMD).

Malahan, kata bu Yatri lagi, sebenarnya banyak juga di antara camaba Angkatan 53 yang tidak melamar Bidikmisi, tapi sangat layak dibantu. 

Mereka benar-benar  gigih berusaha untuk bisa masuk IPB dengan cara  pinjam sana-sini, pakai uang tabungan yang tidak seberapa dan lain-lain.

Ketika para camaba tersebut  ditanya ,

Nanti  kamu bagaimana  untuk biaya hidup di Bogor?
jawabannya sungguh mengharukan.

Kan kabarnya di IPB banyak tawaran beasiswa ya Bu? Saya akan lebih giat belajar agar nilai saya bagus sehingga bisa mendapatkan beasiswa yang lebih baik, Bu.  Dan saya juga  bisa bekerja, kasih les murid SMP dan lain-lain.

Hal tersebut sebagai dampak kuota Bidikmisi IPB yang tahun ini turun drastis dari total 800 orang tahun lalu menjadi hanya 270 orang untuk jalur SNMPTN tahun ini. Sementara itu pelamar  Bidikmisi di jalur SNMPTN tahun ini mencapai 700 orang. sehingga ada 430 orang yang tidak memperoleh Bidikmisi tersebut.

Curahan Harapan Dari Para Alumni


Salah satu berita dari calon mahasiswa baru seperti itu yang menjadi isu nasional adalah saat Ridho.

Ridho, salah seorang calon mahasiswa baru IPB, pernah dibantu melalui kitabisa.com , sebuah platform (media) penggalangan dana.Pemuda yang berasal dari Madiun ini ketika sampai di bogor hanya bisa menangis di pangkuan ibunya saat mengetahui biaya UKT yang harus dibayarkan sebesar 5,7 juta. 

Ibunya hanya seorang buruh cuci, Ayah Ridho pun hanya bisa terbaring di tempat tidur akibat komplikasi diabetes dan jantung yang dideritanya. Jumlah itu sangat besar untuk ukuran Ridho, dan begitu banyak mahasiswa IPB lainnya.

Sebagai respon dari turunnya kuota bidikmisi IPB tahun ini juga dapat dipastikan, dampak dari penggalangan dana UKT Ridho di kitabisa.com , sejumlah alumni IPB turun tangan untuk membantu adik - adik nya.

Kampus IPB


Para alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut yang tergabung dalam Himpunan Alumni (HA) IPB menyatakan komitmen mereka untuk membantu biaya pendidikan mahasiswa IPB sampai mendapatkan gelar sarjana atau delapan semester.

Komitmen tersebut disampaikan oleh alumni IPB lintas angkatan dalam HA Alumni IPB bersama Rektor IPB Rektor IPB Prof Dr Ir Herry Suhardiyanto di Gedung Alumni IPB Baranangsiang Bogor, Jawa Barat, Minggu tanggal 12 Juni 2016. 

Pertemuan tersebut dihadiri Ketua Umum DPP HA IPB Dr Ir Bambang Hendroyono dan Sekjen Nelly Oswini, serta perwakilan alumni IPB dari berbagai angkatan.

Pertemuan itu membahas mengenai bantuan biaya kuliah bagi calon mahasiswa baru yang berasal dari kelompok masyarakat kurang mampu. Ini dilakukan sebagai tindaklajut penggalangan dana guna membantu mahasiswa baru yang saat ini mencapai lebih dari Rp 1,4 miliar.

Bahu Membahu Untuk Masa Depan Yang Makin Baik


Untuk tahun ini kita akan membantu sekitar 371 orang calon mahasiswa IPB angkatan 53 yang secara ekonomi dinyatakan layak untuk dibantu.
Kata bapak Ketua Umum DPP HA IPB Dr Ir Bambang Hendroyono.

Pak Bambang menjelaskan, bantuan yang akan diberikan kepada 371 orang calon mahasiswa IPB tersebut meliputi uang kuliah sebesar Rp 1.488.452.000 per tahun dan biaya hidup sebesar Rp 2.671.200.000 per tahun. Jika dijumlahkan akan menghasilkan angka sebesar Rp 4.159.652.000 per tahun.

Oleh karena itu, butuh kerjasama kolektif dari semua alumni IPB untuk bahu- membahu dalam membantu meringankan beban biaya pendidikan yang akan ditanggung adik-adik kita selama kuliah.

Pak Bambang menambahkan, adapun pengelolaan beasiswa ini akan dikelola oleh badan yang disebut HA IPB Peduli Pendidikan yang bekerja sama dengan IPB.

Kita tidak hanya belajar kegigihan dari para mahasiswa IPB, namun juga bagaimana kuatnya kekeluargaan diantara mereka ya ?
( Video 7 Alasan Kenapa Memilih IPB )


Sumber informasi :


  1. http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/16/06/07/o8dkrr374-kisah-tentang-kegigihan-mahasiswa-ipb
  2. https://kitabisa.com/patunganipb
  3. http://www.kopertis12.or.id/2016/06/13/alumni-ipb-akan-bantu-biaya-pendidikan-mahasiswa-ipb-sampai-lulus-program-sarjana.html

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »